Tak Kan Pernah (lagi)

Ayah….

Ketika waktumu telah habis, tag pernah lagi kurasakan lagi kasih sayangmu

Nasehat yang tiap detik selalu menghujaniku, kini tag kuperdengarkan (lagi)

Tag pernah (lagi) kudengar suara pintamu untuk berhati-hati dan menyegerakan diriku kembali kerumah melalui henpun ketika pulang larut

Tag kan pernah kudapat beberapa potong baju baru ketika lebaran atau ulang tahunku, mengganti celana jins baru yang tiap hari kupakai dan sekedar melihat teman-teman baruku yang singgah,

Tag kan pernah kulihat engkau yang duduk termenung didepan pintu, hanya untuk membukakan pintu dan menyambutku pulang.

Tag kan lagi kuperdengarkan lagi engkau berbicara “Kalau Allah memberi kesempatan untuk menikmati masa tuaku, ayah akan kembali ke Pemalang untuk menghabiskan sisa umur disana dan impian kita untuk pergi ke Solo naek kereta sekeluarga”

Namun Tuhan berkehendak lain, Allah mengajaknya kembali, saat smua keinginan Ayah belum terlaksana, Ayah tag kan pernah melihatku memakai baju toga, melihatku memiliki smuanya, merasakan buah hasil usahaku, dan melihatku bahagia bersama seseorang yang direstuinya untuk hidupku kelak.

Semuanya punah dalam sekejap, dalam satu ketukan, dalam setetes air hujan yang diperintahkan Tuhan kepada Malaikat

Aku bukan anak yang beruntung, karna tag melihatmu, mrasakan, menuntunmu, mendengar, menyentuh, dan mencium keningmu di nafas terakhir. Aku kecewa…

Aku hanya bisa melihat dan merasakan tubuhmu yang membeku.

Melihatmu kembali ke tempat dimana kau berasal dengan iringan doa dan taburan bunga nan indah dari orang-orang yang menyayangimu.

Ya Allah, hamba mohon, jangan biarkan Ayah merasakan sepi, sendiri dan gelap. Terangilah jalannya y Allah, ampuni Beliau, jagalah beliau, dan temanilah beliau. Ayah tag ingin melihat anaknya sengsara di dunia dan aku pun berharap agar Engkau memberikan segalanya yang indah yang Kau miliki untuknya ya Allah.

Terima Kasih y Allah Engkau telah memberikan kesempurnaan itu untukQ, keluarga yang lengkap, kebahagiaan yang sempurna, hidup bersama guru besar yang menuntunku ke jalan yang Engkau ridloi.

10 thoughts on “Tak Kan Pernah (lagi)

  1. Istreriku sudah yatim sejak SD, jadi saya ngerti bagaimana rasanya. Dan semoga akhirnya akan pakai toga juga, amien, allahumma amien.
    Percayalah, Allah swt telah menggantikan posisi ayah dalam hal kasih sayang.
    Barakallah fiikum.

  2. wah malah baru tahu aku kalo dr tulisan bsa tahu logatnya..:)

    aku cma kebetulan aja blogwalking di blogmu kok mbak..šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s