Serba Serbi di Balik Kisah Pengabdian Seorang Istri

Yuhuuuuu……. Kali ne saya mw share tentang sebuah buku. Setelah selesai membaca novel ini selama 3hari, banyak nilai-nilai bermanfaat yang dapat saya ambil. Dari nilai moral, agama, sosial budaya, dan lain sebagainya. Banyak pula kata-kata mutiara yang dapat menjadi sebuah inspirasi, itu yang saya suka. Isi dari novel ini mengisahkan sebuah pengalaman yang (mungkin) telah banyak didengar di lingkungan sekitar.

Novel ini berjudul “Catatan Seorang Istri” karya Asma Nadia. Sekedar lihat judul pun sudah terlintas dibenak kita, bahwa ceritanya pasti berkaitan dengan pengalaman seorang Istri. Yep! Betul banget!. Baru membaca dari Sekapur Sirih atau Kata Pengantar penulis, sudah memberikan pelajaran pembaca dan sedikit meyakinkan pembaca bahwa buku ini sangat menarik untuk dinikmati. Yep! Alhasil, saya pun tertarik untuk membalikkan lembar demi lembar dari buku tersebut. Isinya, bener-bener gak bikin bosen, justru makin penasaran dan bikin ketagihan. Hehe…

Keseluruhan kisah seorang istri dari isi buku tersebut, bener-bener dialami oleh beberapa tokoh yang disebutkan didalamnya. Penulis mendapatkan inspirasi tersebut, dari sekedar sebuah kiriman email, ‘curcol‘ atau curhat colongan seorang tokoh kepada penulis, dan kenyataan yang sungguh-sungguh terlihat oleh penulis. Fantastik! Kumpulan kisah ini, jauh lebih menarik dari acara televisi yang dapat membuat kita menangis. Ekspresi yang terpancar membuat kita lebih yakin dalam belajar memaknai hidup dari pengalaman orang lain.

Kata kunci dari keseluruhan kisah yang diambil dari buku ini adalah kesetiaan, poligami, jatuh cinta (lagi), perselingkuhan, kekhilafan, kematian, perceraian, dan lain sebagainya. Dari buku tersebut sih, hal yang dapat saya sampaikan adalah kebanggaan seorang istri adalah kebahagiaan suami. Sampai-sampai seorang istri mau melakukan apa saja (dalam hal positif) demi suaminya. Seperti, merelakan status istri sebagai istri pertama (tertua) dan bukan lagi ‘‘untuk pertama dan yang terakhir“ kemudian tidak rela menggugat cerai suaminya meski secara hukum sang suami dinyatakan bersalah, dan mampu memaafkan kesalahan suami ketika sang suami terbukti selingkuh. Subhanallah! Allah telah memberikan “rasa manis“ ketika hidup yang dijalani terasa “pahit“. Itulah pertolongan Allah terhadap pengabdian “ikhlas“ seorang istri pada suaminya. Yang perlu kalian ingat bahwa, Pengabdian seorang istri, adalah usaha untuk mendapatkan kenikmatan surgaNya.

Sedikit mengupas mengenai poligami. Mungkin dalam agama islam, hal itu bukan sesuatu yang dilarang ataupun diharamkan, akan tetapi yang menjadi pertanyaan, memangnya keadaan dulu di zaman nabi, itu sama dengan keadaan sekarang yang serba ada dan canggih? Ntah lah kebenaran apa yang terungkap dari pertanyaan itu. Yah, sebagai bahan introspeksi kaum, perempuan yang sedari awal dicintai dan dinikahi itu, bukankah dia yang berjuang menyemangati suami untuk menjadi orang besar, menuntun berdiri sang suami yang tergopoh-gopoh ketika jatuh, mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengabdi kepada suami dirumah, bersama-sama bertahan hidup untuk menjadi orang sukses, makan sepiring berdua, yah intinya istri yang pertama kalinya dinikahi adalah seseorang yang berperan penting bagi keberhasilan sang suami, hingga menjadikan suaminya itu punya “nama”. Pokoknya bersama-sama berjuang dari titik nol.

Setelah suami berhasil mendapatkan dan mengibarkan bendera kemenangan, kok ya masih ada  yang tega menduakan istri dengan perempuan lain, kemana kekuatan cinta yang dulu dibangun, kemana prinsip untuk sehidup semati, kemana kesetiaan dan kejujuran yang dulu dijunjung tinggi, kemana??? Mentang-mentang sudah sukses, si kacang lupa deh sama kulitnya. (Mungkin) tidak semua kaum adam yang seperti itu…>> (optimis). Setiap pernikahan itu pasti ada ujian yang harus dijalani, ya nggak cuma dalam pernikahan saja sih. Meskipun begitu, sang istri mampu memberi maaf tulus terhadap kesalahan suaminya. Hatinya terbuat dari baja berlapiskan tembaga dan bahan material lainnya kali yee! Yah itulah efek dari perbuatan tulus dan ikhlas seorang istri, hingga mampu membentengi semua kesalahan suami. Yang ini juga perlu diingat sodara-sodara, Doa seorang istri kepada suami itu juga manjur, layaknya doa ibu kepada anaknya, maka hal itu juga akan memberikan kunci keberhasilan suami :DD. *Maha Besar Allah dengan segala firmanNya.

Oh iya, buku ini menurut saya wajib di baca oleh seorang remaja yang sedang mencari jati diri, maupun sebagai masukan bagi yang sudah menikah. Orang bilang, lebih baik mencegah daripada mengobati, bagi yang terlanjur, secepatnya untuk diperbaiki. Buku ini akan memberikan dan memantabkan keyakinan baik secara lahir maupun batin, dengan begitu kebersamaan dalam menyelesaikan masalah, akan selamanya ada dan prinsip untuk satu arah dan tujuan masih bisa dipegang teguh. Harapannya sih, kekuatan cinta ini harus dipertahankan, meski ajal yang memisahkan (bukan berpisah karena pihak ketiga lo, iblis maksudnya). Heheh. Kalau di telaah lebih jauh ya, ya buad apa sih mengejar materi dan kepentingan pribadi. Toh, besok waktu kita smua di panggil Sang Pencipta, semua itu gak kan kita bawa, gak akan nyelametin kita buad lari dari kematian. Smua itu Cuma mengantarkan kita untuk menentukan jalan ke surga ato neraka. Bener kan??? Saya juga pernah denger, waktu yang kita miliki itu masih panjang tak terhingga, tapi kematian, itu dekat dengan kita. Jadi ya berbuat sebaik-baiknya umat lah di dunia. (duh! Ko jadi ngelantur gini ya ceritanya!!)

Next, di buku ini juga diterangkan bahwa betapa tipisnya antara suka dan tak suka, cinta dan tak cinta, sayang dan tak sayang. Sebagian seseorang ntah itu perempuan dan laki-laki banyak berubah sikap setelah menikah (inged! Cuma sebagian orang), yang dulunya romantis, setelah menikah jadi dingin, yang dulunya lemah lembut, jadi suka marah-marah, yang dulunya suka ngasi kejutan, jadi gak perhatian, yang dulunya setiap saat ngasih kabar, sekarang jadi seenaknya sendiri. Saya berharap semoga kalian bukan termasuk golongan itu dan semoga kalian bisa mempertahankan kekuatan cinta kalian untuk selamanya meski berbagai cobaan menghadang, dan tetep menjadi diri kalian. Kalaupun mau berubah, ya berubahlah di jalan Allah. (Yakinlah) kalau Allah pasti membantu. Kata bang chrisye sih, badai pasti berlalu. Lalu kerispatih pun tag maw kalah dengan lagu cintanya, tak lekang oleh waktu. Kalau kamu dihatiku selamanya, itu lagunya siapa ya?? Huahaha….

Masih ada sisa-sisa kata indah nih yang mau saya informasikan,

jika dengan sebelah sayap, aku akan terkoyak

camkanlah…

akan kujelajahi gunung,

luasnya samudra, dan

gemintang di angkasa…

Dapat disimpulkan bahwa perempuan mampu berdiri di atas kakinya sendiri, bila keadaan memaksa untuk hidup dan berjuang sendirian. Keteguhan, keberanian, kegigihan, dan kesabaran dalam berjuang untuk bertahan untuk diri sendiri dan anak-anaknya adalah senjata ampuh yang WAJIB dimiliki seorang perempuan. *plok.plok! HIDUP PEREMPUAN INDONESIA!!!

6 thoughts on “Serba Serbi di Balik Kisah Pengabdian Seorang Istri

  1. izin naro cerita…

    Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.

    Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”
    Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.

    “Astaga, untung kau ketemu aku,” Wheeler menyombong. “Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.”

    “Sayangku,” jawab istrinya, “Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.” (The Best Of Bits & Pieces, satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup For The Couple’s Soul)

    Kisah diatas memberikan satu hikmah kepada kita bahwa banyak manusia yang menjadi manusia sukses karena dukungan dari wanita yang menjadi istrinya, dan sebaliknya, tidak sedikit juga lelaki yang jatuh dan hancur oleh karena wanita yang dinikahinya itu.

    Sungguh, pernikahan adalah upaya penyatuan dua kekuatan yang jika kita berhasil melakukannya maka keberhasilan pun akan kita raih, meski harus terlebih dulu –dan juga memakan waktu yang tidak sebentar- melewati berbagai halangan menghadang. Setiap debu berkali-kali menerpa bening mata kita sehingga membuat suram jalan terbentang dihadapan, ombak yang tak jarang dengan tiba-tiba menerjang mahligai rumah tangga, badai dan angin yang meliuk-liuk mengintai dan siap menghantam kokohnya bangunan cinta yang tersusun indah dalam bingkai perkawinan. Sungguh, jika bukan karena keberhasilan memadukan dua kekuatan yang dimiliki kedua insan pasangan suami istri, mungkin pernikahan hanyalah tinggal cerita.

    Dan satu tonggak kokoh yang membuat kaki-kaki ini tetap berdiri melangkah bersama menyusuri perjalanan berumah tangga selama sekian puluh, bahkan sekian ratus tahun hingga Allah menetapkan kehendaknya, adalah rasa syukur dan penerimaan yang tulus terhadap sebuah hati dan jiwa yang Allah berikan untuk dipasangkan dengan kita. Sebuah qalbu indah yang begitu ikhlas menjalin kebersamaan melakukan semuanya berdua dengan kita sehingga bersamaan dengan itu, Allah pun menurunkan ketenangan, kebahagiaan dan kasih sayang (sakinah, mawaddah dan rahmah) menyertai dua hati yang menyatu itu.

    Cinta, saling percaya, pengorbanan, dan berbagai tonggak lainnya seolah menjadikan biduk rumah tangga sepasang suami istri akan tetap oleng diterjang badai jika tak memiliki tonggak yang satu ini. Oleh karena itu percayalah, apapun yang kita dapatkan, kita miliki, segala keberhasilan, kesuksesan dan segala yang menjadi kebanggaan kita saat ini, bukanlah semata upaya diri sendiri. Bukankah seharusnya kita bersyukur karena Allah telah menganugerahkan sebuah jiwa yang juga begitu kuat mendorong kita dari dalam rumah, dari pembaringan dalam kamar tidur, dari meja makan, untuk bisa menjulang ke atas.

    Jika pun kesuksesan itu teraih semasa sebelum kita menikah, bukankah pula seharusnya kita bersyukur karena Allah telah menghadirkan satu hati suci untuk hidup berdampingan dengan kita bukan karena ketampanan, atau kegemilangan kita. Sehingga kemudian, hatinya tidak sombong, juga tidak kikir dan bakhil. Kekasih hati yang seperti ini jugalah yang tetap menjaga hati kita untuk melihat kebawah dan mengulurkan tangan kepada yang lemah. Bersyukur pulalah, karena hatinya yang begitu bersih –yang Allah berikan untuk kita- tidak membuat kita lupa diri yang bisa-bisa menghancurkan dan membuat kita terjatuh dari puncak kejayaan. Dia senantiasa mengingatkan kita ketika khilaf mulai terobsesi dengan kepuasan dunia, dia yang juga menarik kaki ini dari lingkar batas-batas jurang keserakahan harta, dan dengan sekuat tenaganya yang lemah, dia juga berusaha menahan tubuh kita yang terkadang tanpa disadari sudah berada di pintu kesombongan, sehingga kita pun terluput dari murka Allah.

    Sungguhpun ada sebagian pasangan yang harus menjalani rumah tangganya diatas lembar-lembar kekurangan, kesederhanaan dan jalinan keprihatinan. Tetaplah bersyukur karena Allah masih memberikan satu harta yang tak ternilai harganya, yakni satu mutiara yang tetap berdiri merapat dengan ikhlasnya menjalani kekurangan, kesederhanaan dan keprihatinan bersama kita. Jiwa yang begitu kuat untuk tidak tergoda dan iri dengan kegemerlapan tetangganya, bahkan terkadang ia lebih kuat dari kita sendiri, sehingga pancaran kekuatannya itulah yang membantu kita tetap berdiri. Semakin prihatin dan sulitnya kita mengarungi hidup, semakin merapat tubuhnya kepada kita. Sungguh, jangan pernah mengira bahwa kesengsaraan anda hanyalah karena anda menikah dengannya.

    Adakah yang pernah menyesali pernikahan? Mungkin terlalu pahit untuk menerima kenyataan rumah tangga yang tidak terdapat didalamnya kebahagiaan, ketenangan dan kasih sayang. Kegetiran sekejap melanda batin ini tatkala biduk cinta yang dibangun tak sekuat yang direncanakan, bahwa hempasan ombak yang menerjang tak sebesar yang dibayangkan, sehingga kita pun tidak siap menerima setiap cobaan, sehingga tidak sedikit rajutan kasih sayang yang terurai berserakan.

    Namun, bukankah pula dari balik semua itu, Allah memberikan kita hikmah yang begitu mendalam, bahwa ada manusia yang menjadi baik dengan anugerah kebaikan dan ada manusia yang diuji kebaikannya dengan kepahitan dan kegetiran agar ia tetap menjadi baik. Selain itu, Allah yang Maha Adil dan Maha Kasih juga sudah memberi anda pelajaran tentang makna hidup lebih dari orang lain yang tidak pernah mengalami kegagalan, meski tidak jarang manusia tidak mau menerima kenyataan itu. Wallahu a’lam bishshowaab. (Eramuslim-Bayu Gautama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s