Posted by: dhewispenyk on: 17 Desember 2011
Ibarat koin yang telah dicetak, ditempa baja dan dibersihkan, itu adalah aku. Aku adalah sebuah koin bagi keluargaku. Aku dicetak untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi orangtuaku, aku ditempa baja saat menjalani hidup dan menghadapi semuanya untuk meraih apa yang aku inginkan yang menjadi harapan bagi orangtuaku. Setelah tanggung – jawabku sebagai hamba Allah selesai, aku dibersihkan dan bersiap untuk memenuhi panggilanNya. Aku hanya berharap, pada saat yang telah ditentukan, aku ingin menjadi sebuah koin yang bernilai tinggi, sangat tinggi sampai si pemilik koin itu berniat untuk tidak menjualnya, cukup disimpan dan diwariskan kepada penerusnya, seterusnya dan seterusnya. Dan Ayah, bagiku engkaulah koin untuk hidupku.
Ayah, taukah engkau, ibarat kaki, aku udah kehilangan sebelahnya karena kepergianmu. Tanpamu aku harus tetap berjalan dan meneruskan hidup. Tapi aku bersyukur, aku menemukan sebuah tongkat, tongkat yang kuyakini dapat menjadi kekuatanku. Memapahku, membawaku kemanapun aku pergi, menahan beban berat yang mungkin tidak bisa dilakukan dengan satu kaki. Dirinya dan sahabat – sahabatku adalah tongkatku. Mereka adalah kekuatanku.
Ya Allah…
aku hidup karena TakdirMu
aku kuat karena RidhoMu,
aku bahagia atas ijinMu,
Dan aku bisa tersenyum juga berkat RestuMu.
TanpaMu ya Rabb, aku tak bisa berbuat apa – apa.
Maafkan Hamba Ya Allah bila sering mengecewakanMu.
hamba akan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik,
Terbaik di hadapanMu,
hamba ingin bisa Engkau tersenyum bahagia karenaku ya Rabb.
Kumohon sampaikan rinduku ini pada Ayahku (14 November 2009).
aku ingin menjadi sebuah KOIN, yang hanya Allah, mama bapak, dirinya dan teman – teman terbaikku yang memilikinya
Posted by: dhewispenyk on: 17 Desember 2011
Dapet sepotong cerita dari kawan yang berkomentar disini , tapi sepertinya kisah ini disadur dari The Best Of Bits & Pieces, satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup for the Couple’s Soul (buku favoritku). Ceritanya sangat menyentuh sekali loh!
Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.
Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”
Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun. Baca entri selengkapnya »
Posted by: dhewispenyk on: 21 November 2011
Terpikir olehku untuk mencoba sesuatu, yaitu membuat pupuk cair organik. Keinginan ini terinspirasi dari seseorang yang bernama Mbah Lasio – pembicara di suatu pelatihan Padi Sri di Balai Desa Sriharjo, Imogiri. Sampai – sampai sore tadi, saya bermimpi sedang berguru dengan Si Mbah itu dalam menekuni pembuatan pupuk cair. Tetapi yang disayangkan adalah saya lupa bahan – bahan yang digunakan dan cara pembuatan pupuk cair ala chef Mbah Lasio, yang tertinggal di lembar kertas catatan saya hanya tertuliskan :
Pupuk Cair Organik → terdiri dari bahan – bahan sisa dapur, dedaunan (tak bergetah) dan kotoran hewan yang difermentasikan oleh molases (bakteri) selama beberapa hari.
Definisinya umum sekali kan, dari situ dapat dicari lebih lanjut tentang alat dan bahan yang digunakan serta cara pembuatan tentunya. Oh ya sebelum googling, yang perlu disampaikan lagi sebagai pesan dari Mbah Lasio juga adalah,
Kita juga harus menghormati hukum alam, mereka yang merusak tanaman (apapun) juga makhluk hidup ciptaanNya yang sedang berusaha mencari makan untuk mempertahankan diri. Intinya kita semua sedang bekerja sama untuk mendapatkan makanan. Oleh karena itu kita tidak boleh membunuh hama dalam skala besar, hal ini bisa merusak ekosistem. Terapkan pemikiran positif untuk meng – sugesti diri sendiri dan lingkungan sekitar – salah satunya dengan mengajak komunikasi dengan tanaman juga diperbolehkan karena dasarnya kita juga berinteraksi dengan alam sekitar. Apabila kita ramah dengan lingkungan maka lingkungan pun juga akan ramah dengan kita, dengan memberikan hasil budidaya sesuai target kita.
Next, yuk mari googling!! Baca entri selengkapnya »